Advertisement
Scroll untuk melanjutkan membaca
Advertisement

MIRIS! Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan, Rumah Ali di Belakang Pabrik Kertas Terbesar se-Asia Nyaris Roboh


SERANG, – Kondisi pilu menyelimuti kehidupan Ali (50 tahun), seorang warga di Kampung Kedung Wungu Rt001/Rw001, Desa Kamaruton, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Banten. Rumahnya yang sudah bertahun-tahun tak layak huni kini nyaris ambruk, menambah daftar panjang penderitaan yang ia alami bersama anak laki-lakinya.


Ali, yang juga memiliki keterbatasan pendengaran dan sedikit gangguan mental, hidup berdua sejak ditinggal istrinya 25 tahun lalu. Bersama sang anak yang terpaksa putus sekolah saat kelas 3 SD, mereka menyambung hidup dari penghasilan serabutan yang amat tidak menentu.


"Jangankan untuk membangun dan merenovasi rumahnya, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan. Tak jarang Ali dan anaknya harus menahan perihnya perut mereka karena kelaparan," demikian laporan yang diterima redaksi.


Saat tidak mendapatkan penghasilan, Ali dan anaknya hanya mengandalkan belas kasihan dan pemberian dari para tetangga. Penghasilan mereka hanya cukup untuk makan satu kali dalam sehari


Yang lebih memprihatinkan, kondisi rumah Ali hanyalah satu dari beberapa kasus serupa di Kampung Kedung Wungu. Disebutkan, ada tiga rumah lain yang juga sangat tidak layak huni, yaitu milik Artibah (janda, 60 tahun), Yahya (40 tahun), dan Salkah (janda, 55 tahun).


Ironisnya, Kampung Kedung Wungu berada persis di belakang kawasan perusahaan kertas raksasa, PT. Indah Kiat Pulp and Paper, yang dikenal sebagai salah satu pabrik terbesar se-Asia.



Ahmad Sueb, seorang Aktivis Pemerhati Lingkungan, mengungkapkan rasa kecewanya. Ia menyoroti minimnya perhatian dari pihak terkait.


"Sebenarnya tidak pantas ada rumah tidak layak huni di Kampung Kedung Wungu, yang mana kampung tersebut berada persis di belakang kawasan perusahaan kertas PT. Indah Kiat Pulp and Paper, pabrik terbesar se-Asia," tegas Ahmad Sueb.


Selama bertahun-tahun, program bantuan perbaikan rumah seperti Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) dari pemerintah atau program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan di sekitar lokasi, seolah-olah tidak pernah menyentuh warga Kampung Kedung Wungu.


Pergantian kepemimpinan mulai dari Presiden, Gubernur, DPR RI, Bupati, hingga Kepala Desa, tidak membawa perubahan signifikan bagi Ali dan tetangganya yang miskin. 


Menutup pernyataannya, Ahmad Sueb menyampaikan harapan agar pihak-pihak berwenang segera bertindak.


"Kami harap pemerintah Desa, daerah, dan pusat jangan tutup mata akan hal tersebut. Kalau bukan dari mereka, dari siapa lagi? Kalau bukan dari bantuan pemerintah dan perusahaan serta tangan-tangan dermawan, dari siapa lagi? Mari kita sama-sama bergandengan tangan dan bantu warga masyarakat serta saudara-saudara kita yang membutuhkan," tutupnya. (*/Red) 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • MIRIS! Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan, Rumah Ali di Belakang Pabrik Kertas Terbesar se-Asia Nyaris Roboh
  • MIRIS! Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan, Rumah Ali di Belakang Pabrik Kertas Terbesar se-Asia Nyaris Roboh
  • MIRIS! Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan, Rumah Ali di Belakang Pabrik Kertas Terbesar se-Asia Nyaris Roboh
  • MIRIS! Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan, Rumah Ali di Belakang Pabrik Kertas Terbesar se-Asia Nyaris Roboh
  • MIRIS! Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan, Rumah Ali di Belakang Pabrik Kertas Terbesar se-Asia Nyaris Roboh
  • MIRIS! Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan, Rumah Ali di Belakang Pabrik Kertas Terbesar se-Asia Nyaris Roboh
Posting Komentar
Tutup Iklan